Pencak Silat Betawi | Sejarah dan Alirannya

Pencak silat betawi sudah ada sejak abad ke 19, pada saat itu masih bernama maen pukul. Bagi Anda orang awam, tentu sering mendengar nama tokoh Sabeni.

Sabeni merupakan seorang pendekar silat betawi legendaris yang ada di Tanah Abang, hal tersebut menunjukkan jika silat Betawi cukup besar dan eksis dari dulu sampai sekarang.

Sejarah Pencak Silat Betawi

Berbagai pendapat ahli sejarah menyatakan jika etnis Betawi terbentuk pada abad ke 18, etnis ini sendiri merupakan campuran dari berbagai etnis lain seperti Jawa, Sunda, Bali, Arab dan Melayu.

Akulturasi tersebut menghasilkan sebuah budaya dan adat istiadat baru, salah satu produk hasil akulturasi tersebut adalah seni bela diri berupa pencak silat.

Seperti yang kita ketahui jika silat sudah ada jauh sebelum masyarakat Betawi terbentuk, maka silat Betawi merupakan gabungan dari beberapa aliran pencak silat tanah air.

Pada saat itu, pencak silat bukan hanya sebagai ilmu bela diri, namun juga sudah menjadi produk sosial untuk hiburan masyarakat.

Maen Pukul” sebutan bagi silat Betawi di waktu itu juga berguna sebagai alat perjuangan untuk meraih kemerdekaan.

Seiring berjalannya waktu, lahirlah para jawara silat yang berjuang melawan berbagai tindakan tidak mengenakkan dari kolonial Belanda.

Setelah era kemerdekaan, pencak silat Betawi masih terus eksis namun terdapat sedikit perbedaan dalam penerapannya.

Yaitu pencak silat yang dulunya mengutamakan gerak kasar kini telah berubah ke bentuk sastra.

Macam-Macam Aliran Pencak Silat Betawi

Perpaduan etnis tersebut menjadikan Betawi memiliki banyak sekali aliran pencak silat, yaitu terdapat 317 ragam aliran silat.

Semua aliran silat tersebut tergabung ke dalam perkumpulan tersendiri yang disebut sebagai Putera Betawi (Perkumpulan Aliran-Aliran Pencak Silat Betawi).

Putera Betawi juga termasuk ke salah satu dari 9 perkumpulan historis yang membentuk Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Namun dari beberapa aliran pencak silat Betawi tersebut, terdapat 4 aliran silat terbesar dan paling populer di Indonesia, yaitu aliran silat Beksi, Cingkrik, Kwitang dan Sabeni.

Berikut penjelasan setiap aliran pencak silat tersebut.

1. Silat Beksi

Beksi merupakan aliran pencak silat Betawi yang diciptakan oleh seseorang keturunan Tiongkok bernama Lie Tjieng Hok.

Lie Tjieng Hok sendiri mengkolaborasikan pencak silat yang dia pelajari dari guru silat Betawi dengan ilmu bela diri dari keluarganya.

Kemudian muncullah nama silat Beksi yang berasal dari kata Bhe Si yang dalam bahasa Indonesia berarti kuda-kuda.

Baca Juga:

Pencak Silat Cimande | Sejarah, Tujuan dan Ajarannya

Silat Beksi sendiri pertama kali diajarkan ke masyarakat Betawi dan orang Tionghoa di Kampung Dadap.

Seiring berjalannya waktu, Silat Beksi pun menyebar ke daerah Petukangan Selatan, Jakarta Selatan dan Tangerang.

Silat Beksi memiliki 12 jurus dasar yang memiliki pembagian lagi di setiap jurus-jurusnya.

2. Silat Cingkrik

Silat Cingkrik berasal dari bahasa Betawi yaitu “jingkrak-jingkrik” yang berarti memiliki gerakan yang lincah.

Ismail Bin Muayad atau Kong Maing adalah tokoh yang menciptakan Silat Cingkrik atau main pukul Cingkrik di daerah Rawa Belong pada tahun 1920 an.

Sebelum menciptakan aliran silat ini, Kong Maing sebelumnya pernah mempelajari silat di wilayah Meruya dan Banten, namun beliau memiliki inisiatif untuk membuat aliran silat sendiri.

Gerakan pada silat Cingkrik terinspirasi dari gerak gerik seekor monyet, oleh karena itu tidak heran jika silat ini memiliki ciri gerakan yang lincah.

Silat Cingkrik berkembang ke luar wilayah Rawa Belong bisa terjadi berkat peran ke 3 murid utama Kong Maing, yaitu Ki Saari, Ki Ajid dan Ki Ali.

Aliran maen pukul ini memiliki 12 jurus dasar dan 3 jurus sambut, sambut sendiri adalah istilah dari latihan pertarungan antara dua orang.

3. Silat Sabeni

H. Sabeni bin Canam merupakan salah satu legenda jawara silat Betawi yang cukup populer. Beliau sendiri juga memiliki aliran silat Betawi yang bernama silat Sabeni.

Sebelum menciptakan silat Sabeni, beliau sebelumnya pernah belajar silat dari dua orang guru yang bernama H. Syuhud dan H. Ma’il.

Kemudian H. Sabeni mengkolaborasikan kedua silat tersebut dan terciptalah silat Sabeni Tenabang.

Silat Sabeni ini berkembang pesat berkat sepak terjang H. Sabeni dalam melakoni berbagai pertandingan bela diri yang sangat populer di masanya.

Pada kala itu, H. Sabeni pernah mengalahkan Jagoan Kemayoran dan juga menang melawan para ahli bela diri utusan Belanda dan Jepang.

Ciri silat Sabeni ada pada gerakan tangan yang cepat dan rapat, terhitung silat ini memiliki ratusan pecahan jurus.

4. Silat Kwitang

Sesuai namanya, aliran silat Betawi ini berasal dari daerah Kampung Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Nama baku dari silat ini yaitu Perguruan Silat (PS) Mustika Kwitang.

H. Muhammad Djaelani (Mad Djaelani) mendirikan Silat Kwitang pada tahun 1945. Silat ini terbentuk dari gabungan beladiri kuan tao dan pencak silat lokal Betawi.

Pada tahun 1973, silat Kwitang secara resmi telah bergabung ke dalam perkumpulan aliran-aliran pencak silat Betawi (Putra Betawi).

Ciri dari silat Kwitang berada pada gerakan energik dengan kombinasi pukulan cepat khas dari aliran silat Betawi.

Silat Kwitang memiliki 3 jenis jurus, yaitu jurus dasar tangan kosong, jurus inti tangan kosong, dan jurus menggunakan senjata.

Berbagai penjelasan macam aliran serta pengertian silat Betawi di atas bisa Anda pahami guna menambah pengetahuan tentang tradisi serta budaya asli negara Indonesia.

Tinggalkan komentar