Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) | Profil dan Sejarah

Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT merupakan organisasi pencak silat terbesar di Indonesia. 

Hal ini terbukti dengan jumlah anggotanya berjumlah sekitar 50 juta Warga yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri.

PSHT sendiri sangat berperan penting dalam memajukan pencak silat Indonesia. Seperti pada tahun 1948, PSHT  bersama beberapa perguruan lain membentuk Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Oleh karena itu, PSHT menjadi salah satu dari 10 perguruan historis pendiri IPSI, hingga saat ini PSHT terus berkembang hingga memiliki banyak cabang yang tersebar di dalam negeri dan di luar negeri.

Lantas bagaimanakah sejarah PSHT hingga menjadi organisasi pencak silat terbesar di Indonesia?, mari simak kisahnya berikut ini.

Sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate

Jika membahas tentang PSHT maka tidak akan lepas dari aliran pencak silat Setia Hati, Ki Ngabehi Soerodiwirjo (Eyang Suro) merupakan tokoh legendaris pendiri aliran pencak silat ini.

Sejarah dan Kisah Perjalanan Eyang Suro

Ki Ngabehi Soerodiwirjo lahir pada tahun 1876 di Surabaya, beliau merupakan putra sulung dari Ki Ngabehi Soeromihardjo.

Eyang Suro yang lahir di keluarga terpandang dengan garis keturunan Batoro Katong di Ponorogo sedari kecil sudah memiliki otak yang cerdas serta kemauan yang keras.

Pada usia 15 tahun beliau sudah bekerja menjadi seorang juru tulis, kemudian beliau juga pernah menimba ilmu di pondok pesantren Tebuireng di Jombang sekaligus mulai mempelajari ilmu beladiri pencak silat.

Belajar Silat di Jawa Barat

Perjalanan hidupnya yang terus berpindah-pindah mengantarkan beliau ke Bandung tepatnya di daerah Parahyangan pada tahun 1892.

Bak sambil menyelam minum air, pada saat itulah Eyang Suro muda juga mempelajari ilmu pencak silat yang ada di Jawa Barat.

Disana beliau mempelajari aliran silat Cimande, Cikalong, Cibaduyut, Ciampea dan Sumedangan.

Selang setahun, tepatnya pada 1893 beliau pindah ke Batavia (Jakarta) dan kembali menambah khasanah keilmuan pencak silatnya.

Belajar Silat di Betawi

Eyang Suro sendiri mempelajari beraneka macam aliran silat Betawi, seperti Betawian, Kwitangan, Monyetan dan Toya.

Lalu pada 1894, Eyang Suro pindah ke Bengkulu, namun pencak silat yang ada sama persis dengan daerah Jawa Barat.

Belajar Silat di Sumatera Barat

6 bulan setelah itu, beliau pun merantau ke Sumatera Barat (Padang), ternyata daerah Minangkabau tersebut menyimpan ilmu beladiri pencak silat yang sangat beragam.

Bagai menemukan bongkahan berlian, beliau pun langsung mempelajari setiap aliran pencak silat Minangkabau tersebut.

Seperti permainan Padang Pariaman, Padang Sidempuan, Padang Panjang, Padang Pesur, Padang Sikante, Padang Alai dan Padang Patarikan.

Lalu bergeser sedikit di daerah Bukittinggi, beliau juga mempelajari permainan silat Orang Lawah, permainan Lintang, Solok, Singkarak, Sipei, Paya Punggung, Katak Gadang, Air Bangis dan Permainan Tariakan.

Selain mempelajari permainan silat, Eyang Suro juga mempelajari ilmu kerohanian dari salah satu gurunya yaitu Datuk Rajo Batuah, dimana ilmu kerohanian tersebut hanya diajarkan kepada murid tingkat II.

Belajar Silat di Aceh

Setelah mendapat cukup banyak ilmu, beliau pun melanjutkan perjalanannya ke utara tepatnya di Banda Aceh. 

Disana beliau berguru dengan beberapa guru pencak silat seperti Tengku Achmad Mulia Ibrahim, Gusti Kenongo Mangga Tengah dan Cik Bedoyo.

Eyang Suro akhirnya mendapat pelajaran permainan silat khas Aceh seperti Permainan Aceh Pantai, Kucingan, Bengai Lancam, Simpangan dan Turutung.

Setelah keilmuan beliau sudah cukup lengkap, pada tahun 1902 Eyang Suro memutuskan kembali ke Surabaya dan bekerja sebagai anggota Polisi berpangkat Mayor.

Tidak lama, pada tahun 1903 beliau mendirikan sebuah perkumpulan bernama Sedulur Tunggal Kecer dengan permainan pencak silat bernama Joyo Gendilo Cipto Mulyo. 

Kemudian pada tahun 1917, beliau pindah ke Madiun dan mendirikan Persaudaraan Setia Hati di daerah Winongo, Madiun.

Lahirnya Persaudaraan Setia Hati Terate 

Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang merupakan salah satu murid Eyang Suro di aliran pencak silat Setia Hati, meminta izin kepada sang Guru Besar untuk mendirikan pusat pendidikan pencak silat dari aliran Setia Hati tersebut.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh sistem kasta dalam mengajarkan ilmu pencak silat, dimana pada saat itu ilmu pencak silat hanya diajarkan bagi para kaum Bangsawan saja.

Sehingga Ki Hadjar Hardjo Oetomo ingin agar rakyat biasa dan para pejuang kemerdekaan juga bisa mempelajari ilmu beladiri pencak silat.

Kemudian, Eyang Suro menyetujui hal tersebut namun dengan syarat pendidikan tersebut harus memiliki nama yang berbeda.

Hasilnya beridirilah Persaudaraan Setia Hati “Pemuda Sport Club”atau SH PSC pada tahun 1922. 

Penentangan dari Beridirnya SH PSC

Namun respon dari beberapa pihak mengenai berdirinya SH PSC ternyata kurang mengenakan.

Beberapa pihak pengikut Setia Hati yang terhasut menyatakan jika SH PSC berdiri sebagai sebuah penghianatan terhadap aliran Setia Hati sehingga diberi nama “SH Murtad”.

Karena menurut mereka SH PSC bukan termasuk penerus sah dari ajaran Setia Hati yang harus tergabung ke dalam SH Panti.

Bukan hanya itu, Pemerintah Kolonial Belanda juga menentang keras berdirinya SH PSC karena akan mengancam kekuasaan Kolonial Belanda.

Hasilnya Belanda pun menangkap Ki Hadjar Hardjo Oetomo dan memberi hukuman pembuangan di Jember, Cipinang dan Padang Panjang.

Tidak tinggal diam, para anggota SH PSC terus mengembangkan ajarannya hingga pada tahun 1942.

Perubahan Nama SH PSC Ke PSHT

Soeratno Sorengpati yang dulunya adalah murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo mengganti nama SH PSC menjadi Setia Hati Terate.

SH PSC yang dulunya yang masih bersifat perguruan dengan adanya guru besar, kini berubah menjadi bentuk organisasi modern dengan nama Setia Hati Terate.

Perubahan sistem dan nama tersebut medapat kesepakatan bersama melalui kongres pertama di rumah Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun 1948.

Setia Hati Terate atau Persaudaraan Setia Hati Terate pun langsung berkembang dengan konsep organisasi yang demokratis namun tidak meninggalkan tradisi-tradisi sistem perguruan terdahulu.

Selanjutnya Kang Mas Soetomo Mangkoedjojo memangku jabatan sebagai ketua umum PSHT pertama sepeninggal Ki Hadjar Hardjo Oetomo.

Beberapa tahun kemudian, Mas Irsjad (Murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo) mendapat amanah menjadi ketua umum menggantikan Kang Mas Soetomo yang harus bertugas ke Surabaya.

Pada masa kepemimpinan Mas Irsjad inilah diperkenalkan 90 jenis senam dasar, jurus dasar 1-4, jurus belati dan jurus toya.

Seiring berjalannya waktu, tongkat kepemimpinan berpindah ke tangan Raden Mas Imam Koesoepangat, pada masa inilah terjadi pembaruan jurus untuk membedakannya dengan jurus Joyo Gendilo Cipto Mulyo yang milik SH Winongo.

Pada era Raden Mas Imam Koesoepangat juga PSHT mulai menyebar ke seluruh nusantara bahkan mulai terkenal hingga ke luar negeri.

Profil Persaudaraan Setia Hati Terate

Berdasarkan sejarah berdirinya, PSHT lahir pada tahun 1922 dengan kantor pusat di Jalan Merak No.10, Nambangan Kidul, Kec. Manguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur.

Ketua Umum PSHT saat ini adalah Kangmas Moerdjoko HW dan Kang Mas Issoebiantoro sebagai Ketua Dewan.

Terpilihnya kedua tokoh besar PSHT tersebut merupakan hasil dari Parapatan Luhur 2021 yang juga telah menyelesaikan polemik yang terjadi belakangan ini. 

Pada saat ini PSHT sudah memiliki total 343 Cabang (termasuk Cabang khusus) di seluruh Indonesia dan luar negeri.

Tujuan Persaudaraan Setia Hati Terate

Seperti yang kita ketahui jika awal mula berdirinya SH PSC sebelum bernama PSHT adalah untuk melawan penjajah.

Maka setelah itu PSHT terus berkembang dan memiliki tujuan mulia dengan makna yang lebih dalam lagi.

Tujuan dari PSHT yaitu untuk mendidik manusia yang berbudi luhur, tau benar dan salah, serta bertaqwa kepada Tuhan YME.

Pendidikan Dalam PSHT

Pada dasarnya, pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate memiliki 3 kelompok pendidikan sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Pendidikan dalam PSHT meliputi pencak silat ajaran, pencak silat prestasi dan pencak silat beladiri praktis.

Pencak silat ajaran merupakan materi yang sebagiannya harus ditempuh para siswa agar bisa disahkan menjadi warga resmi PSHT.

Materi tersebut yaitu senam dasar, jurus dasar, senam massal, senam dan jurus toya, belati, kripenan dan silat seni tunggal, ganda atau beregu.

Lalu kelompok pencak silat prestasi berfungsi sebagai sarana untuk mengikuti berbagai kejuaraan silat baik dalam lingkup lokal, nasional dan internasional.

Ketiga ada pencak silat beladiri praktis, kelompok ini bertujuan untuk membekali para pesilat dengan teknik beladiri secara cepat dan efisien.

Bukan hanya materi gerak pencak silat saja, PSHT juga mengajarkan kerohanian Setia Hati untuk mendekatkan manusia dengan sang pencipta dengan cara mengenal diri sendiri.

Tingkatan Pada Pada Persaudaraan Setia Hati Terate

Agar menjadi Warga atau anggota tetap PSHT, para siswa harus melalui 4 tahapan.

Yaitu tahap sabuk Polos (Hitam), Jambon (Merah Muda), Ijo (Hijau), Putih Kecil kemudian baru bisa melalui prosesi pengesahan dan menjadi Warga yang mengenakan Mori.

Warga atau Pendekar PSHT juga terbagi menjadi 3 tingkatan, yaitu tingkat I (Satrio), tingkat II (Ngalindro), dan tingkat III (Pandhito).

Falsafah dan Semboyan PSHT

Semboyan dalam Persaudaraan Setia Hati Terate adalah :

Selama Matahari Terbit dari Timur dan Bumi Masih Dihuni Oleh Manusia, Selama Itu Pula Setia Hati Terate Abadi Jaya Selama-lamanya”.

Selanjutnya ada juga Falsafah PSHT yang berbunyi :

“Manusia Dapat Dihancurkan, Manusia Dapat Dimatikan, Tetapi Manusia Tidak Dapat Dikalahkan Selama Manusia itu Masih Setia Pada Hati Nuraninya Sendiri”.

Kata Mutiara PSHT

Mulianya ajaran dalam pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate memunculkan banyak kata mutiara berupa falsafah Jawa. Berikut beberapa kata mutiara tersebut :

“Ojo Rumongso Biso Ning Sing Biso Rumongso”.

Makna: Jangan merasa paling bisa namun harus bisa merasakan.

“Suro Diro Joyo Diningrat Lebur Dening Pangastuti”.

Makna: Segala sifat keras hati dan angkara murka dalam diri manusia akan hilang dan lebur dengan sifat lemah lembut dan hati yang sabar.

“Memayu Hayuning Bawono Ambrasto dur Angkoro”.

Makna: Manusia hidup harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

• “Tego Larane, Ora Tego Patine”.

Makna: Tega melihat saudara kesakitan dalam memperbaiki diri namun tidak tega melihat kematian saudaranya.

• “Sepiro Gedhening Sengsoro Yen Tinompo Amung Dadi Cubo”.

Makna: Sebesar apapun kesengsaraan jika mampu menerimanya dengan lapang dada maka hanya akan menjadi cobaan semata.

• “Urip Iku Urup”.

Makna: Dalam menjalani kehidupan, manusia harus memberikan manfaat terhadap lingkungan dan sesama layaknya api hidup yang menerangi kegelapan.

• “Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman”.

Makna: Jadilah manusia yang kuat dengan sifat tidak mudah heran, tidak mudah kecewa, tidak mudah kaget dan tidak boleh manja.

• “Cilik Ora Kurang Bakal, Gede Ora Turah Bakal”.

Makna: Jangan sesekali meremehkan seseorang, karena yang kecil belum kekurangan ilmu dan yang besar belum tentu selalu kelebihan ilmu”.

• “Ngluruk Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake”.

Makna: “Berjuang tanpa membawa massa, menang tanpa merendahkan dan mempermalukan”.

“Satrio Ingkang Pilih Tanding”.

Makna: Seorang pendekar harus mampu memilih lawan yang setara dengan dirinya, dan tidak akan menghadapi lawan yang lebih lemah darinya.

Semua falsafah tersebut mengajarkan para manusia agar memiliki budi pekerti luhur dengan jiwa yang setia terhadap hati nurani sesuai ajaran dari pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate.

Tinggalkan komentar